Hari Ini, IKARSI Hibur Warga Relokasi Siosar

METROPUBLIKA-TANAH KARO | Hari ini (Minggu, 28/2/2016) dimulai pukul 12.00 Wib, sejumlah vokalis muda dan handal yang direkrut Idola Karo Simalem (IKARSI) melalui event khusus baru-baru ini, akan menyumbangkan suara emasnya bagi warga pengungsi sinabung yang telah direlokasi ke Siosar Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumut.

Hal ini diungkap Ketua Pimpinan Cabang Lembaga Swadaya Masyarakat Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia (PC LSM KCBI) Kabupaten Karo, Rudi Surbakti didampingi Sekretaris Lamhot Situmorang (Lams Tomorrow) selaku pihak penyelenggara acara, Sabtu (27/2/2016) di Kabanjahe. Dijelaskan, kegiatan itu dilakukan sebagai wujud nyata sikap sosial yang nilainya tidak terukur.

Karena menurut Rudi, banyak menilai bahwa warga yang sudah menjalani kehidupan direlokasi telah dinyatakan sejahtera.Tapi faktanya, tudingan ringan yang terendus ditengah-tengah masyarakat tidak begit akurat. Hanya saja, katanya, segala aktivitas warga siosar diprediksi sangat prospektif. Namun, yang namanya menunggu pasti memunculkan rasa jenu apalagi mereka yang sudah lama diselimuti duka.

“Nah, kalau kita tilik dari segi kondisi warga disana (siosar), masih terlihat wujud nyata minimnya siraman rohani. Ini diketahui dari sikap sehari-harinya dari cara berfikir terlebih sikap. Ini sangat ril, terkadang hal ini muncul secara improfisasi dikalangan anak-anak. Jadi mereka sangat butuh hiburan agar kelak hasil fasilitias yang telah dibangun, balans dengan mental,” tutup Rudi.

Senada dengan kajian Ketua Rudi, Sekretaris LSM KCBI Lamhot SP, hal ini direalisasikan karena metode kegiatan tersebut dinilai multi dampak positif. Menurutnya, disamping berpotensi menetralisir mental, mengingat kondisi siosar yang banyak menyimpan nilai spesial seperti iklimnya, medannya serta tatanan permukiman dan pertaniannya, dengan kehadiran pengunjung dinilai efektif sebagai promosi dini akan keindahan situasi.

“Siosar itu sangat kaya potensi dan jika dikelola sangat menjanjikan jadi area wisata yang luar biasa, semuanya tinggal menunggu waktu. Hanya saja, mudah-mudahan dengan kehadiran pengunjung diharap dapat memberikan informasi sesuai yang dirasakannya. Siapa yang suda kesana, pasti bilang woow, alasannya, tubuh disentuh kesejukan, mata dimanjakan pemandangan,” ujar Lams.

Masih kata Lams, dibalik kaitan siosar yang berpotensi menjadi Dearah Tujuan Wisata (DTW), konsep ini muncul merupakan salah satu nilai dari sebuah “Ketulusan”. Dijelaskan, dengan seringnya melihat sikap positif oleh figur-figur yang menuangkan rasa ketulusan, pihaknya termotivasi melakukan hal sama yang dianggap sebagai akses penguji bahwa dirinya mampu berbenah diri.

“Ini cerita jujur, acara hiburan yang akan dilaksanakan nanti sudah lama kita rencanakan. Terhitung sejak bulan 12 tahun lalu, sudah banyak kita rancang berbagai item kegiatan. Namun, berhubung faktor finansial tidak mendukung, konsep tersebut gagal terealisasi. Hal yang membuat kita termotivasi, adanya hiburan rutin terhadap anak-anak pengungsi, yang notabene dilakoni pihak Polri,” pukasnya.

Lanjut aktivis LSM juga sekaligus berprofesi penulis itu, dia mengaku salut dengan sikap Polres Karo yang setiap malam minggu setia menghibur anak-anak pengungsi di depan gedung DPRD Karo. Menurutnya hal seperti itu jarang ditemukan di republik ini. “Mohon maaf, bukan karena Kapolres berketepatan dari Samosir, kalau kita pikiri itu suatu kegiatan melelahkan serta sangat mengikat.

Mestinya, sikap unik itu menjadi potret buat kita, khususnya bagi kalangan yang masuk kategori berekonomi mapan. Tapi sayang, hal itu di bumi turang tidak menjadi suatu bahan lirikan. Karena figur-figur wakil rakyat yang pimpinannya didominasi kaum hawa tidak ‘tergerak’ walau kegiatan sosial itu rutin diselenggarakan di depan kantornya. Ini suatu pertanda,” beber Lams.

Setelah melihat fenomena tersebut, warga Tanah Karo diharap banyak belajar dari kenyataan. Lams berpesan agar kedepan lebih bijaksana menentukan figur-figur yang dianggap tulus menindaklanjuti keluhan rakyat. “Kita harus waspada, potret itu menggambarkan bahwa hati nuraninya sudah ’dipangkur kerra’,” tutupnya.

Sementara itu Ketua Idola Karo Simalem (IKARSI) Julius S Depari, ketika diwanwancarai Metropublika, Sabtu (27/2/2016) di Kabanjahe, membenarkan bahwa acara hiburan yang figur-figur vokalisnya diadopsi dari IKARSI tidak bersifat mengacu dengan system yang biasa di internalnya. Depari mengaku, bahwa hal itu diamini sesuai pengajuan lisan LSM KCBI yang dinilai konstruktif.

“Kita sangat tertarik dengan metode tawaran pihak LSM KCBI yang kesannya bersifat multi dampak positif. Secara langsung, konsep ini juga merupakan implementasi action “Simbiosis Mutualisme”yang manfaatnya tidak terukur secara materi. Semoga dengan kegiatan sederhana ini, dapat tercipta sesuatu yang luar biasa. Mari bersatu, menuju karo maju,” ujar Julius. (Panitra Barus / pur / Red).