Ekonomi Hukum Uncategorized 

Kepala Bank BNI Kabanjahe ‘Mainkan’ Nasabah

METROPUBLIKA-TANAH KARO |Kepala Bank BNI Cabang Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumut, Elwin Ristiyono dituding telah mempermainkan pihak nasabahnya sehingga “Harta Bersama” bernilai milyaran rupiah sebagai agunan pinjaman beralih ke pihak tidak dikenal.

Peralihan status  “Harta Bersama” berupa 1 (satu) unit bangunan rumah dan tanah dengan  bukti kepemilikan Surat Hak Miliki (SHM) Nomor : 1494, terletak di Jln. Perumahan Rakyat, Gg Simalem No.02, Kelurahan Gung Negeri, Kabanjahe, tersebut justru berujung duka.

Faktanya, pihak bagian dari nasabah Bank Nasional Indonesia (BNI) Cabang Kabanjahe, yakni Junita Sembiring Milala (43) dan Cici Br S (20), merupakan istri dan anak kandung nasabah utama inisial MS, terpaksa menjalani hidup penuh derita pasca peralihan status agunan.

Demikian penjelasan Junita S Milala alias Mak Cici, Minggu, (1/10/2017), kepada sejumlah wartawan dan LSM di Jln. Jamin Gintings Kabanjahe. Dikatakan, peristiwa memilukan itu terjadi sejak proses perceraian dengan suaminya MS secara budaya disaksikan aparat pemerintah setempat.

Dikisahkannya, historis hilangnya sertifikat rumah huniannya berawal ketika pihaknya (suami-red) meminjam uang ke Bank BNI Kabanjahe sebesar Rp.320.000.000, pada tahun silam dengan metode pembayaran berupa cicilan perbulan ditambah kewajiban suku bunga.

Lanjutnya, sejak terjadinya keretakan jalinan hubungan suami istri dalam keluarganya terhitung dua (2) tahun belakangan ini, justru angsuran hutang ke bank pun mengalami kendala. Padahal, kata Junita lagi, sisa hutang di Bank BNI diperkirakan hanya kurang lebih 60 juta.

Masih menurut Junita, saat proses perceraian secara budaya karo, kedua belah pihak membuat kesepakatan tertulis salah satunya solusi penyelesaian sisa hutang di Bank BNI guna menindaklanjuti status sertifikat rumah sebagai “Harta Bersama” dalam keluarganya.

“Sebagai poin inti, saya dengan mantan suami saya secara bersama menuntaskan harta bersama dengan cara masing-masing mencari pembeli objek rumah yang diagunkan dengan syarat kami wajib berkoordinasi setiap adanya tawaran harga pihak pembeli.

Hal itu bertujuan agar keadilan pembagian bagi dua “Harta Bersama” setelah dipotong sisa hutang di Bank BNI tersebut berlangsung secara riil. Status situasi keluarga kami serta solusi hutang piutang inipun sudah langsung saya laporkan ke pihak BNI Kabanjahe.

Namun, penempuhan keadilan bersifat kekeluargaan yang kami buat ternyata tidak efektif karena pelaksanaan yang telah tersirat masih diwarnai kesan konspirasi. Saya tidak menyangka bahwa seminim itu pihak BNI dan Notaris menghargai nilai muatan lokal,” ujar Junita.

Junita juga mengaku, pasca perlakuan tega pihak BNI dan Notaris dalam penuntasan hutang piutang berkaitan “Harta Bersama” , dirinya pernah mendatangi pihak Bank BNI Kabanjahe beralamat di Jln Veteran Kabanjahe, dengan sikap emosi karena menurutnya sangat berdasar.

“Begitu saya mendengar bahwa penyelesaian hutang piutang di Bank telah dilakukan secara diam-diam pada saat itu, saya mendatangi pimpinan Bank BNI dan mengamuk disana. Kala itu, Kepala Bank BNI Cab Kabanjahe memberikan alasan klasik soal perlakuannya.

Pimpinan Bank BNI mengaku, bahwa hal itu dilakukan demi mempertahankan jabatannya sebagai Kepala Bank BNI Cabang Kabanjahe. Nah, ini bukan alasan yang riil dan merakyat, beliau mengaku demi jabatan, sementara saya dan anak saya harus menjalani penderitaan,” tutupnya menangis.

Sementara, Kepala Bank BNI Cabang Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumut, Elwin Ristiyono, hendak dikonfirmasi Minggu, (1/10/2017) tidak berhasil. Sama halnya dengan pihak Notaris yang bertindak mengurus administrasi pengalihan SHM juga tidak berhasil ditemui. (Red-01-L@ms/Gord APS/Bangun SPR).

Related posts

Leave a Comment